DUGAAN PUNGLI DI SMAN 1 PERHENTIAN RAJA, INI MENURUT KOMISIONER KPAI

Pekanbaru, bidik86.com

 

“Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) kan bisa menggunakan sistim C, artinya jika di Sekolah tersebut ada 50 (lima puluh) Komputer, namun siswa yang ikut UNBK ada 100 (seratus) siswa, bisa dengan menggunakan sistim shift pada ujian tersebut,”  jelas Retno Listyarti, M.Si, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), saat dihubungi Pewarta via telpon selulernya, saat dimintai tanggapan akan dugaan Pungutan Liar (Pungli) yang diduga dilakukan oleh pihak Sekolah melalui Komite, sebesar Rp503.000 (lima ratus tiga ribu rupiah) per siswa secara Flat (sama), untuk pembelian Komputer, guna pelaksanaan UNBK, Sabtu (22/06/19).

 

“Jadi, sebenarnya tidak perlu melakukan pungutan pada siswa, dari anggaran Bantuan Operasional Sekolah) BOS, kan bisa membeli 5 (lima) Unit Komputer untuk setiap tahunnya. Kalau UNBK tidak bisa dilakukan, jangan dipaksakan. Namun, jika orang tua (ortu)/wali murid yang membantu secara ikhlas dan sesuai prosedur, itu bisa saja,” tambah Retno.

 

” Tapi kalau jumlah yang diminta oleh pihak Sekolah kepada siswa, itu namanya pungutan, sebenarnya kalau seperti ini harusnya dilaporkan kepada Sapu Bersih (Saber) Pungli,” tegas Retno.

 

“Nanti mereka semua yang akan memproses dugaan Pungli tersebut, karena mereka punya team penyelidikan (lidik), Rp10.000 (sepuluh ribu rupiah) saja dikejar apalagi ratusan ribu seperti ini. Kalau KPAI tidak bisa melaporkan hal semacam ini, karena tidak memiliki kewenangan dalam pemeriksaan keuangan, melainkan Saber Pungli dan Inspektorat wilayah berada serta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud),” jelasnya.

 

“Kami pihak KPAI sangat perihatin atas peristiwa dugaan Pungli yang terjadi, maka kami menyarankan agar pihak yang merasa dirugikan, melaporkannya pada pihak Saber Pungli dan Inspektorat, supaya ditindak tegas oleh gakum, sehingga peristiwa seperti ini tidak menjadi contoh bagi Sekolahan lain,” pungkas Retno. (Red)

No Responses

Leave a Reply