RATUSAN PETUGAS KPPS MENINGGAL, MENKES: UNTUK DKI JAKARTA, PENYEBABNYA KARENA PENYAKIT BAWAAN

Jakarta, bidik86.com

 

Bertambahnya korban meninggal dunia maupun jatuh sakit, para petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) dalam Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 silam, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melakukan audit medik terhadap sejumlah para petugas KPPS yang meninggal dunia.

 

Dalam pelaksanaan audit medik tersebut, Menkes, Nila Moeloek, mengungkapkan hasil audit yang berasal dari Provinsi Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta, terdapat hasil temuan sejumlah petugas KPPS yang meninggal yang disebabkan karena penyakit bawaan, yang dimiliki sejumlah petugas sebelum saat pelaksanaan Pemilu.

 

“Dari data 18 (delapan belas) orang, diketahui penyebab meninggal dunia 8 infarkmiokap, sakit jantung mendadak, kemudian gagal jantung, liver, stroke, gagal pernafasan, dan infeksi otak meningitis,” ungkap Menkes, Nila Moeloek, setelah melakukan pertemuan tertutup terkait kesehatan petugas KPPS, di kantor Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia (KPU RI), Jakarta, Rabu (08/05/19).

 

Lebih lanjut Menkes juga menjelaskan, adanya metode audit medik yang dilakukan, dengan melakukan pemeriksaan terhadap para petugas KPPS yang meninggal dunia, dan dengan pemeriksaan 2.641 (dua ribu enam ratus empat puluh satu) petugas yang jatuh sakit. Pemeriksaan audit tersebut dibagi menjadi dua jenis, yakni jenis audit optisiper dan dengan audit medik autopsi verbal.

 

“Data dari DKI yang meninggal dunia 18 orang, yang sakit 2.641, dilakukan disini (dari Kemenkes) audit medik dan optisiper faur bagi yang di Rumah Sakit (RS) kami punya angka audit medik, tapi diluar DKI juga didatangi dan dilakukan autopsi verbal,” jelasnya.

 

Selain dengan menemukan indikasi akan sejumlah petugas KPPS yang meninggal dunia dan terjatuh sakit, Menkes, Nila Moeloek, juga merincikan bahwa adanya sejumlah petugas yang dijadikan sebagai sampling (contoh) dalam melakukan audit medik tersebut, menemukan bahwa angka tertinggi para petugas yang mengalami kedukaan, dengan rentan usia tertinggi yang berkisaran dari usia 50, hingga 70 tahun keatas.

 

“Jadi, dari 18 data DKI, 2 meninggal dunia usia 70 tahun, 5 meninggal dunia usia 60-69 tahun dan 8 meninggal dunia usia 50-59 tahun. Jadi, terbanyak usia tua,” tuturnya lagi.

 

Adapun audit medik yang dilakukan oleh Menkes, Nila, juga mengatakan bahwa audit tersebut tak hanya dilakukan pada Provinsi DKI Jakarta, namun meski hanya baru Prov. DKI Jakarta yang telah menyerahkan hasil audit tersebut, Nila mengungkapkan bahwa Kemenkes masih akan menunggu dari 33 (tiga puluh tiga) Provinsi lainnya yang belum menyerahkan hasil audit medik para petugas KPPS.

 

Lebih lanjut, Moeloek mengaku akan menyiapkan petugasnya untuk melakukan cek kesehatan kepada petugas KPPS yang sampai saat ini masih bertugas dan berpotensi mengalami kelelahan. Hal ini menjadi satu upaya agar tidak ada lagi peyugas KPPS yang tumbang.

 

“Kami tetap melihat, minta laporan setiap Provinisi dari Dinas Kesehatan (Dinkes) melihat audit medik dan audit verbal. Setelah mendegar banyak yang meninggal dunia, kami segera menugaskan kepada Dinkes untuk bantu pemeriksaan di tempat Pemilu,” tutup Menkes, Nila F. Moeloek. (Red)

No Responses

Leave a Reply