PETERNAK UNGGAS BLITAR : “KEBIJAKAN KEMENTAN PRO RAKYAT”

Blitar, bidik86.com

Peternak diseluruh Indonesia saat ini fokus beternak, sehingga tidak menghiraukan provokasi atau penggiringan opini mosi tidak percaya terhadap Pemerintah karena dikhawatirkan akan mengganggu stabilitas peternakan.

Anggapan bahwa Pemerintah tidak fokus mengelola kebijakan pertanian baik disisi hulu maupun dihilir yang dianggap membingungkan para peternak tersebut terbantahkan oleh pernyataan asosiasi peternak lainnya.

Hal tersebut disampaikan oleh beberapa peternak sebelumnya dan salah satunya, Sukarman selaku Pengurus Paguyupan Peternak Rakyat Nasional (PPRN) yang sekaligus Ketua Koperasi Peternak Unggas Sejahtera (Putra) Blitar, Selasa (27/11/18).

Ia katakan bahwa kebijakan Kementerian Pertanian (Kementan) selama ini mereka rasakan sangat berdampak terhadap keberlangsungan usahanya. Ia sebutkan, Blitar memiliki 4.200 peternak dengan populasi ayam layer sekitar 19 juta ekor dan produksi telur mencapai 650 ton per hari.

Menurutnya, selama ini peternak di Blitar merasa banyak dibantu oleh Kementan dalam hal ini Direktorat Jenderal (Dirjen) Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH).

“Alhamdulillah dalam dua tahun terakhir ini kami banyak dibantu oleh Kementan,” imbuh Sukarman.

Saat harga telur jatuh pada tahun 2017 hingga mencapai Rp13.500,- lanjutnya lagi, Kementan langsung datang, bahkan Dirjen PKH atas instruksi Bapak Mentan datang sendiri sampai 3 kali ke Blitar.

Sukarman menjelaskan bahwa untuk mengatasi penurunan harga telur tersebut, Kementan mengundangnya ke Jakarta dan dilibatkan dalam penyusunan kebijakan perunggasan di sektor hulu hingga terbitlah Permentan 32 tahun 2017.

“Untuk mengakomodir suara kami, Kementan merevisi Permentan sebelumnya menjadi Permentan No. 32 tahun 2017, dimana dalam Permentan tersebut diatur pembagian DOC layer, dimana peternak mandiri mendapatkan DOC 98% dan integrator cuma 2%, bahkan integrator tidak boleh menjual telur di pasar becek,” ungkap Sukarman.

Lebih lanjut, dirinya menyebutkan bahwa produksi telur sebelumnya agak jelek karena banyak ayam yang afkir, hingga harga telur setelah lebaran kembali mengalami penurunan sekitar Rp15.500 – Rp16.000,-. Menyikapi hal ini Dirjen PKH kembali turun ke lapangan dan menghimbau agar ayam yang sudah tidak berproduksi untuk diafkir.

“Saat ini yang berproduksi adalah ayam-ayam muda dan sudah berproduksi maksimal,” ungkap Sukarman.

Menurutnya, dalam dua minggu ini harga telur ayam telah membaik, yaitu berkisar antara Rp19.500 – Rp20.000, sebelumnya sekitar Rp16.000,-.

“Harga saat ini sudah sesuai dengan harga acuan yang ditetapkan oleh Pemerintah melalui Permendag No. 96 Tahun 2018 yakni Rp18.000,- hingga Rp20.000,-” ucap Sukarman.

Sukarman menambahkan, jika jumlah anggota koperasinya saat ini ada 350 peternak, sedangkan anggota dari asosiasi PPRN banyak sekali. Rata – rata kepemilikan ayamnya 3.000 – 10.000, bahkan ada yang ratusan ribu. Ia kembali menekankan bahwa Kementan sangat membantu keberlangsungan usaha peternak-peternak kecil di Blitar dari hulu sampai hilir. Apalagi saat ada penyakit, Tim Ditjen PKH langsung turun ke Blitar untuk melakukan investigasi dan mengambil sample, serta cepat mengatasi penyelesaian masalah penyakit tersebut.

“Saat ini kami sudah ada kerjasama juga dengan Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta, melalui MoU yang ditandatangani antara Bupati Blitar dengan Gubernur DKI Jakarta”, ungkap Sukarman.

“Kami akan mensuplai telur ayam ke Food Station sebanyak 150.000 ton hingga 200.000 ton per bulan”, terangnya.

Selain itu juga Blitar saat ini sedang membangun kerjasama dengan Kabupaten Majene untuk mensuplai telur dan sebaliknya Kab. Majene akan mensuplai jagung ke Blitar.

Sementara itu, Rofi Ketua PPRN (Paguyuban Peternak Rakyat Nasional) Blitar, menceritakan bahwa peternak Blitar sudah bertahun – tahun mencari nafkah dengan usaha ternak ayam petelur. Ia berterima kasih kepada Menteri Pertanian dan jajaranya yang selalu berusaha membantu peternak untuk terus hidup dan berkesempatan mencari nafkah serta membantu memajukan bangsa.

Blitar merupakan basis terbesar produksi unggas dan produk turunannya di tingkat nasional. Sebanyak 4.321 keluarga disana terlibat aktif dalam peternakan unggas layer (petelur). Disana mereka memenuhi kebutuhan pakan unggas berupa jagung dan tanaman pangan lainnya secara mandiri dari pertanian lokal. Dari 7.600 ton produksi telur nasional, 40 persennya dihasilkan dari Jawa Timur (Jatim). Paling besar berasal dari Kab. Blitar, tempat Rofi dan peternak lainnya beternak ayam petelur.

Hasilnya mereka manfa’atkan untuk meningkatkan kesejahteraan sehingga taraf kehidupan mereka kian meningkat dari tahun ke tahun. (Red)

No Responses

Leave a Reply